March 11, 2013

Jalan


Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah berlari sekencang mungkin, tak tau arah dan tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku melangkah, hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu--cahaya yang menuntunku ke ujung jalan terang dan aku mulai mengenal suasana di sekelilingku.
Aku mendengar suara burung-burung kecil yang biasa menyapaku setiap pagi, hatiku terasa tenang sesaat. Di ujung jalan juga ada kursi kayu tua dan sebuah biola berwarna hitam. Biola itu hadiah dari ayah di hari ulang tahun Adikku Mely yang ke tujuh, ayah tahu betul bakatnya dalam bermain musik. Setiap sore Mely selalu memainkannya untukku, dia selalu berusaha membuatku tersenyum dengan senar merdunya.
Aku jadi teringat saat itu, masa-masa yang sangat indah dengan adikku tercinta. Aku sangat merindukannya saat ini. Kusentuh biola itu lembut, permukaannya masih halus seperti saat pertama dulu aku menyentuhnya. Hanya saja terlihat sedikit aus karena Mely memainkannya setiap hari. Tetapi tentu saja Mely tak pernah kehilangan indahnya melodi.
Sejenak aku mengernyitkan kening, hembusan angin membuyarkan semua kenanganku. Angin itu membawa aroma khas parfum ibu yang tak pernah dimiliki oleh wanita lain selain sosok separuh baya yang tak pernah berhenti tersenyum saat menatapku. Ya, ibuku adalah ibu nomer satu di dunia. Tak ada senyuman seindah senyumnya. Tak ada belas kasih sebesar kasih sayangnya. Sebongkah semangat di setiap bangun tidurku, membuatku lebih tegar menghadapi dunia.
Kenapa tiba-tiba aku merasa langit terlalu cerah dan panas? Sepertinya aku memang sudah terlalu lama berhenti, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan langkahku menyusuri setapak demi setapak jalan yang panas ini.
Langkahku terhenti.
Aku kaget. Aku bisa berjalan, bahkan berlari! Bukankah aku cacat? Aku benar-benar tak percaya kalau cacat yang aku derita sejak lahir akhirnya sembuh, meskipun masih ada sedikit nyeri di bagian dada dan kepalaku, tapi aku yakin aku sudah sembuh. Aku bisa menggerakkan semua jari kakiku dengan bebas.
Aku sudah sembuh!
Ini semua sangat mustahil. Benarkah ini nyata? Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selain bersyukur kepadaNya. Lama sekali rasanya mimpiku akhirnya jadi kenyataan dan sekarang aku dapat melangkah indah tanpa kursi roda. Berjalan tanpa ada yang menopangku.
Senyumku pun terhenti saat aku melihat sosok anak laki-laki yang sebaya denganku. Lelaki seumuran denganku itu hanya menatap kak--mungkin merasa aneh dengan tingkahku yang menarik perhatiannya. Aku terus berjalan dan pura-pura tak menghiraukannya, aku malu atas tingkahku barusan.
Tapi kenapa dia tak sedikitpun berpaling dariku? Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi aku bisa melihat kejernihan matanya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan langkahku tepat di depannya dan memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf..ini daerah mana ya?”
Aku semakin merasa aneh saat dia hanya tersenyum padaku. Aku kembali mencoba mengajaknya bicara. “Sebenarnya saya tidak asing dengan daerah sini, tapi saya hanya lupa namanya.” Dia tetap diam. Kali ini aku mulai jengkel. Sebaiknya aku pergi saja sendiri.
Tiba-tiba dia menggandengku tanpa meminta persetujuanku, tangannya yang dingin menarikku ke sebuah jalan lurus yang tak dapat kulihat ujungnya. Kami berjalan dalam irama cepat seperti sedang diburu waktu. Meski dadaku terasa sakit tapi langkahku spontan mengikuti langkahnya begitu saja. Entah kenapa aku tak mempunyai daya untuk menolaknya.
Sejenak aku teringat saat dulu ayah berkata padaku, “Nanti kalau kamu sembuh dan bisa berjalan, ayah janji akan mengajak kamu dan Mely pergi ke danau yang paling indah disini. Kita bisa bermain dan berlari bersama-sama!” Ayah mengelus kepalaku dengan lembut, aku hanya membalasnya dengan tersenyum hambar karena aku tahu itu tak akan pernah mungkin terjadi. Tapi sekarang ucapan ayah menjadi kenyataan, aku benar-benar sudah sembuh.
Pikiranku kembali tertaut kepada anak yang sedang menggandeng tanganku. Mau dibawa kemana sih aku ini? gumamku dalam hati. Aku mulai bertanya-tanya kenapa anak ini tak sedikitpun ingin berkata padak--paling tidak mengatakan kemana dia akan membawaku pergi. Atau jangan-jangan dia ingin mengantarku pulang? Aku sudah tak sabar memberi tahu pada ayah, ibu dan Mely atas kesembuhanku. Semua pasti kaget saat aku sudah di rumah nanti.
Setelah melangkah begitu jauh, kakiku sudah mulai lelah. Aku merasa sangat haus. Tak berapa lama kemudian anak laki-laki itu menyodorkan air minum padaku, seakan dia tahu apa yang sedang ada dalam pikiranku. Dia tersenyum simpul saat aku menerimanya. Dia kembali menarikku untuk berjalan lagi setelah aku menenggak habis minuman yang diberinya.
Siapa sebenarnya anak laki-laki ini? Bagaimana dia bisa tahu pikiranku? Jangan-jangan dia juga mendengar semua gumamku dari tadi, mungkin karena itu kenapa dia tidak mau bicara padaku. Apa dia sejenis orang pintar? Atau jangan-jangan dia dukun? Ahh, aku terlalu lelah bahkan untuk berpikir.
Kami masih berjalan sampai aku melihat seberkas cahaya yang mulanya terlihat kecil. Entah kenapa aku merasa genggaman anak itu mulai memudar. Dengan tertatih aku berjalan ke cahaya yang semakin terang itu sendiri. Aku sangat lelah sekarang. Aku sudah tak punya tenaga lagi untuk berjalan. Dadaku nyeri. Kepalaku semakin pening. Pandanganku mulai buram. Semakin gelap dan gelap.
Aku terjatuh tak sadarkan diri.



Samar-samar aku mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku. Suara seseorang yang selalu mengisi hari-hariku dengan motivasi dan semanga--ayahku.
“Ran,” suara lirih ayah terasa begitu dekat sampai-sampai aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus pelan di telingaku. Perlahan aku membuka mata, tak begitu jelas, tapi aku bisa melihat ayah dan ibu tengah tersenyum dan bersyukur atas kesadaranku.
“Iya, Yah,” ujarku pelan. “A-apa yang terjadi?” aku bertanya dengan terbata-bata.
“Kamu koma selama tiga hari setelah operasi hati yang telah kamu jalani, alhamdulillah sekarang kamu sudah sadar,” jawab ayah penuh rasa syukur.
Ibu maju dan duduk di sebelahku, tubuhnya terlihat lelah tapi rona bahagia nampak jelas di wajahnya. “Bagaimana keadaanmu nak? Ibu sangat khawatir dengan kondisimu yang melemah,”  tutur Ibu sambil mengelus dahiku.
“Ran nggak apa-apa kok,” jawabku dengan tersenyum. Aku mulai sadar bahwa semua yang aku alami dengan anak laki-laki itu hanyalah sebuah mimpi. Jadi aku belum sembuh. Aku masih Ran yang cacat, seperti dulu.
Aku menatap ayah dan ibu di depanku. Mereka hanya berdua, kemana adikku? Kemana sosok mungil yang selalu menemaniku dengan senar merdunya itu? Aku merindukannya.
“Loh, adik di mana?” tanyaku penasaran.
“Adik?” sahut ibu dan ayah serempak. Seolah mereka heran dengan pertanyaanku barusan. Mata mereka bertanya menagih jawabku.
“Iya, adikku, aku kangen sekali dengannya.”
“Adik siapa?” ayah kembali bertanya.
“Adikku, si M...” tiba-tiba aku lupa nama adikku sendiri, aku mencoba mengingat sekuat tenaga, tapi seakan nama itu terhapus begitu saja dari ingatanku. “Adikku...aku lupa namanya...tapi dia adikku...anak ibu dan ayah juga..” aku meracau, tak bisa mengendalikan kata-kataku sendiri.
“Ran..” ucap ayah menatapku, “Kamu nggak punya adik, kamu kan anak tunggal.”
“Nggak mungkin, ayah bercanda. Dimana adik, bu, yah?”
“Sadar Ran...kamu jangan berkata yang bukan-bukan. Dari dulu anak ayah dan ibu cuma kamu seorang, cuma kamu Ran!” ujar ibu meyakinkanku.
Aku tak tahu harus bicara apalagi. Airmataku tanpa sadar mengalir deras. Dadaku terasa sesak dan nafasku mulai tak stabil. Aku mendengar ayah berteriak memanggil dokter. Dimana adikku sayang? Kenapa ayah dan ibu sendiri melupakannya? Dimana kamu, dik?
Setelah beberapa hari, kondisiku mulai membaik. Tapi aku jadi jarang berbicara, aku selalu memikirkan adikku dan anak laki-laki yang pernah ada di alam bawah sadarku. Sebenarnya siapa mereka berdua? Dan mengapa ayah dan ibu tak mengenal mereka? Aku tak tahu apa yang sedang terjadi.
“Pagi Ran, gimana kabar kamu?” sapa dr. Dana riang. ”Ibu dan ayahmu belum datang ya? Dokter yakin mereka akan melakukan semua apa yang terbaik untukmu,” aku hanya membalas rentetan ucapannya hanya dengan senyuman.
Dr. Dana Raharja adalah dokter yang menangani operasiku tempo hari, sebenarnya dia sangat baik, tapi aku malas bicara pada siapapun karena pikiranku masih sibuk memikirkan segala kenanganku. Sebuah kenangan karena sekarang aku sendiri mulai tak yakin keberadaan mereka. Tapi mereka terasa begitu nyata bagiku. Hanya bagiku.
“Kamu pasti sangat bosan di kamar yang sempit ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?” usul dr. Dana padaku. Sepertinya tawaran itu boleh juga, sebaiknya aku memang harus pergi keluar sebelum aku jadi benar-benar gila.
“Baiklah, apa dokter mau menemani saya?”
“Tentu saja,” dr. Dana tersenyum tulus.
Mataku menelusuri setiap sudut kamar, tapi aku tidak menemukan kursi rodaku. Aku baru sadar bahwa aku tak melihat kursi roda di ruanganku sejak pertama kali aku sadar, pasti para suster yang memindahkannya.
“Kamu nyari apa, Ran?” tanya dr. Dana heran, matanya mengikuti arah pandangku.
“Kursi roda. Kursi roda saya mana ya, dok?”
“Kursi roda? Memangnya kenapa kalau jalan kaki? Kondisimu memungkinkan untuk jalan kok, tapi kalau kamu ingin kursi roda biar dokter ambilkan.”
“Saya kan nggak bisa jalan, dok!”
“Kenapa? Kenapa kamu nggak bisa jalan Ran?” dr. Dana terlihat cemas mendengar kata-kataku.
“Saya cacat,” ujarku pelan bercampur dengan rasa takut dan getir harus dihadapkan pada kenyataan pahit.
“Cacat? Sejak kapan kamu cacat?” dr. Dana tertawa keras. “Aneh-aneh saja kamu ini,” tuturnya masih dengan gelak tawanya yang tersisa.
Jadi?

***
Banyak sekali kejutan yang aku alami sejak sadar dari koma. Aku jadi mulai tau siapakah adik khayalanku, anak laki-laki yang ada di mimpiku, sampai kenyataan bahwa aku tidak cacat. Semua jawaban itu ada dalam hati baruku. Ternyata segumpal daging di dadaku ini tidak hanya memberiku hidup tapi juga memberiku banyak kenangan indah yang tersisa.
Dr. Dana dengan perlahan menjelaskannya padaku. Namanya Rey, seorang anak cacat namun selalu ceria setiap harinya tiba-tiba menjadi murung karena harus kehilangan ibu dan adik tercintanya dalam sebuah kecelakaan. Hal itu semua berakibat buruk pada kesehatannya yang semakin menurun setiap harinya.
Suatu hari dia melihatku sedang terbaring lemah di rumah sakit, dia bertanya kepada ayahnya tentang sakitku lalu mendoakan kesembuhanku. Dan suatu ketika di saat kondisinya benar-benar melemah, dia memohon kepada ayahnya agar mau memberikan hatinya kepadaku. Sekarang aku menyadari bahwa ayah Rey juga merupakan malaikat bagiku, pastilah teramat berat merelakan kepergian anak yang sangat disayanginya.
“Dia bilang bahwa dia nggak ingin keluarga kamu merasakan apa yang pernah dia rasakan, kehilangan orang yang sangat dicintai,” kata dr. Dana saat aku bertanya alasan kenapa Rey mau menyumbangkan hatinya padaku. “Rey memang anak yang baik,” dr. Dana tersenyum penuh luapan emosi.
Semua yang pernah Rey alami adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Dia percaya aku akan menjaga hatinya, maka aku juga akan menjaga kenangan indah di dalamnya. Aku sangat berterima kasih dia telah memberiku hati yang penuh dengan kasih sayang ini. Entah aku bisa membalas kebaikannya atau tidak, yang jelas aku sangat bahagia bahwa hati baik Rey-lah yang mengisi dadaku saat ini.
RIP Reihansyah Raharja.

No comments:

Post a Comment

winter night

making love in a winter night almost like an invitation to a far away dreamland looking at a pair of moonlight eyes swelling heart i feel