November 8, 2013

Perjalanan Jauh Menuju Ikhlas


Dulu bisa dibilang, aku tuh pede banget menyebut diriku itu gampang ikhlas. Eww, banget ya? Haha tapi ya gitu deh. Kalo bantu temen ya musti tulus, nggak berharap apa-apa soalnya ya seneng aja gitu bisa bantu. Liat temen senyum dan berterima kasih aja menurutku udah lebih dari cukup. Selama mampu, kalau ada temen minta tolong insya Alloh akan selalu bersedia membantu.

Nah, tapi ternyata selama ini aku salah banget memaknai antara tulus dan ikhlas. Jauuuuuh banget bedanya. Iya, sejauh mata memandang di situ aku melihat kamu. #apasih -___-

November 6, 2013

Kamu Jelek?

Ide nulis topik pembicaraan blog kali ini adalah karena nggak berapa lama waktu lalu, aku sempet beberapa kali punya diskusi menarik tentang guyonan fisik. Entah itu sekedar candaan bilang jelek, atau menertawakan (maaf) kekurangan fisik orang. So I’ve come to a question, sebenarnya gimana sih definisi jelek?

May 19, 2013

Stranger


So down to baggage claim I went, twenty minutes at the carousel before it finally started to begin the slow dispersion of luggage. I had my notebook with me already, of course, and only had two small pieces of luggage, which after another ten minutes had dropped on to the carousel and was making its way towards me. The tall brown-haired man was smiling at me and I remembered what I had on—I was going to have to be careful not to give a show. I was distracted enough and so uneasy under his steady gaze that my luggage passed me by. I carefully dipped down and collected my first piece when a man I’d noticed before was suddenly next to me lifting my second piece.

March 11, 2013

Jalan


Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah berlari sekencang mungkin, tak tau arah dan tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku melangkah, hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu--cahaya yang menuntunku ke ujung jalan terang dan aku mulai mengenal suasana di sekelilingku.
Aku mendengar suara burung-burung kecil yang biasa menyapaku setiap pagi, hatiku terasa tenang sesaat. Di ujung jalan juga ada kursi kayu tua dan sebuah biola berwarna hitam. Biola itu hadiah dari ayah di hari ulang tahun Adikku Mely yang ke tujuh, ayah tahu betul bakatnya dalam bermain musik. Setiap sore Mely selalu memainkannya untukku, dia selalu berusaha membuatku tersenyum dengan senar merdunya.

Tombol Merah


            Di perempatan jalan aku terdiam, menunggu datangnya perintah sang ilahi—paling tidak itulah kata komandanku. Aku gemetar sekali, aku bahkan tak sanggup untuk berjalan lagi. Kuputuskan untuk berhenti di belakang sebuah kios kecil penjual minuman bersoda.
            “Minum, mas?” tanya seorang pria muda―mungkin seumuran denganku, sepertinya dia kasihan melihatku bersimbah keringat.
            Cukup lama dia menunggu responku, aku menggeleng pelan. Entah kenapa aku ragu untuk mengeluarkan suara. Rasanya satu saja suara keluar dari mulutku, semua orang akan langsung tahu siapa aku. mungkin memang aku terlalu gelisah. Ya, mungkin saja.

winter night

making love in a winter night almost like an invitation to a far away dreamland looking at a pair of moonlight eyes swelling heart i feel