Di perempatan jalan aku terdiam, menunggu datangnya perintah sang ilahi—paling tidak itulah kata komandanku. Aku gemetar sekali, aku bahkan tak sanggup untuk berjalan lagi. Kuputuskan untuk berhenti di belakang sebuah kios kecil penjual minuman bersoda.
“Minum, mas?” tanya seorang pria muda―mungkin seumuran denganku, sepertinya dia kasihan melihatku bersimbah keringat.
Cukup lama dia menunggu responku, aku menggeleng pelan. Entah kenapa aku ragu untuk mengeluarkan suara. Rasanya satu saja suara keluar dari mulutku, semua orang akan langsung tahu siapa aku. mungkin memang aku terlalu gelisah. Ya, mungkin saja.
Detik demi detik berlalu, menit pun dengan cepat berubah menjadi jam. Aku masih duduk di tempat yang sama. Menunggu apa sebenarnya aku? Entahlah, susah menjelaskannya.
Angin berhembus pelan, rambutku yang mulai panjang pun bergerai. Kubiarkan saja. Aku jadi ingat sudah lama Ibu menyuruhku memotongnya, risih katanya. Ahh.. tak terasa hampir dua tahun aku tak pulang ke rumah, bagaimana kabar Ibu dan adik-adikku? Lalu Ayah, sudah bertahun-tahun aku tak mengunjungi makamnya. Anak macam apa aku ini..
Kupandang langit sore itu, cerah sekali. Nanti malam pasti semua bintang akan muncul. Adikku yang paling kecil, Nina, sangat menyukai bintang. Seringkali dia merengek minta digendong jalan-jalan melihat bintang. “Kalo digendong abang, rasanya seperti terbang. Nina suka..” katanya sambil tersenyum manis memperlihatkan dua belah lesung pipinya.
Aku terhenyak, kenapa aku malah berpikir tentang langit dan bintang?! Bodoh sekali aku ini, hari ini kan hari besar. Aku harus fokus. Fokus!
Belum sempat aku merampungkan tekadku, aku melihat seorang anak kecil memegang balon warna merah muda bergambar kelinci di tangan kanannya. Dia berjalan dengan melompat-lompat sehingga kedua orang tuanya mengikutinya dari belakang dengan was-was, tetapi ketiganya juga terlihat tertawa senang. Betapa bahagianya keluarga kecil ini..
Kemudian mataku berhenti di penjual jamu gendong. Ibu-ibu paruh baya, wajahnya letih namun tetap tersenyum menawari setiap orang yang lewat di depannya. Dia pasti sudah bekerja seharian, tapi kulihat botol-botol jamunya masih banyak yang terisi, bahkan ada juga yang masih penuh. Meskipun peluh membasahi dahinya yang dihiasi keriput, entah kenapa rona tegar terpancar kuat dari wajahnya di rona senja sore ini.
Ya Tuhan, kenapa sedari tadi pikiranku malah melantur kemana-mana? Aku tak boleh seperti ini, aku harus memusatkan pikiranku untuk misi mulia yang akan segera kulaksanakan. Tak akan kubiarkan otak bodohku ini membuatku lengah dengan segala pengalihannya.
Aku bangkit. Kurapikan kemeja dan celanaku. Pagi tadi semua orang menyelamatiku, bahkan, Bejo teman sekamarku bilang bahwa dia sangat beruntung dan bangga punya teman sepertiku. Tak pelak pujiannya membuatku melayang senang. Aku serasa sudah jadi pahlawan―paling tidak bagi mereka.
Perlahan tapi pasti, akhirnya aku aku memasuki bangunan yang semenjak tadi jadi pusat pikiranku, aku hanya mengalihkan perhatian meski tak berhasil sepenuhnya. Tak bisa kupungkiri, aku memang masih sedikit takut, takut membayangkan apa yang akan terjadi di sana.
Belum sempat kulangkahkan kaki masuk, dua orang wanita tinggi dan berkulit pucat keluar tergesa-gesa. Kuhentikan langkahku, entah kenapa aku jadi kikuk sendiri. Tak ingin memperlihatkan kecanggunganku, aku berusaha berjalan tenang masuk ke dalam ruangan.
Suara musik berdentum keras di setiap sudut ruangan, bising sekali. Kumpulan manusia berjoget ria penuh semangat. Dunia fana, penuh foya-foya. Bahkan malam pun tak akan mereka ijinkan untuk tidur. Muda tua sama saja. Wajah mereka merah, setelah terbakar matahari atau mungkin juga karena minuman terkutuk di tangan mereka.
Aku duduk di sebuah kursi dengan meja menempel dengan tiang. Sengaja kupilih meja kecil untuk dua orang supaya tak terlihat mencolok. Entah itu berhasil atau tidak, entahlah.
Lebih dari dua jam sudah aku duduk sendiri ditemani dua minuman limun segar yang sudah kuhabiskan daritadi. Memikirkan kemungkinan itu minuman terakhir yang akan aku minum aku kembali gelisah dan berniat untuk memesan sebuah minuman lagi. Sampai akhirnya saku kanan celanaku bergetar, sebuah sms sepertinya.
Jantungku berdetak kencang sekali, setelah menghirup nafas panjang kupencet tombol OK.
J
sender:
+62812300457
Ya, cuma satu huruf, tapi aku tahu pasti apa artinya. Aku harus melakukannya sekarang, tak ada jalan untuk kembali lagi. Now or Never! Begitu kiranya komandan meyakinkanku dulu di base camp.
Satu tekanan saja, satu kali saja, semua akan selesai.
Benarkah? Tiba-tiba suara kecil di sudut lain hatiku menyeruak.
Tentu saja! Jawabku meyakinkan. Entah kenapa dalam yakinku pun ada keraguan. Sepertinya seluruh tubuhku pun ikut merasakannya, itulah kenapa aku masih terdiam membisu. Keraguanku pun seakan tersenyum nyinyir mengejekku.
Belum selesai aku bergelut dengan keyakinan dan keraguanku, otakku melemparkan sekelebat ingatan tentang keluarga bahagia yang tadi kulihat. Senyum mereka begitu menyenangkan, sungguh aku pun ikut tertular bahagia melihatnya.
Aku juga teringat ibu penjual jamu gendong keliling tadi. Pasti dia jadi tulang punggung di keluarganya, suaminya mungkin sakit-sakitan atau mungkin sudah mati. Lebih ironisnya, ada kemungkinan juga dia ditinggal suaminya yag menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan lebih menarik. Sehingga dia harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Kepulangannya sudah pasti ditunggu-tunggu di rumah.
Apa kau tega? Keraguanku menantangku.
Keyakinanku mulai menciut, tertunduk lesu binggung mau menjawab apa. Keraguanku semakin gencar melayangkan pikiran-pikirannya. Tapi toh aku tak mau mundur begitu saja.
Ini bukan masalah tega atau tidak tega, ini adalah yang terbaik. Keyakinanku beragumen seadanya.
Untuk siapa?
Untuk... entah kenapa keyakinanku tak bisa menjawabnya. Aku masih ingat benar, kemarin aku begitu bersemangat mendapatkan tugas ini. Tugas mulia yang tak sembarang orang bisa melakukannya, lantas kenapa sekarang aku bahkan tak tau lagi apa gunanya ini semua.
Berpikirlah..
Aku kembali mengamati kumpulan orang-orang yang tengah berpesta liar, berjoget tanpa lelah, minuman di tangan, beberapa pasang bibir berpagut dengan antusias. Benar-benar pemandangan yang menjijikkan. Melihatnya saja membuatku mual ingin muntah.
Orang-orang seperti inilah yang merusak dunia, pikirku. Yakinku pun kembali menguat.
Dunia siapa? Duniamu atau dunia mereka?
Dunia kita semua! Moral bejat tak tahu diri!
Apa kau sendiri sudah suci?
Aku memang bukan makhluk suci, tapi setidaknya aku tidak sekotor mereka!
Apa kau Tuhan yang berhak menentukan seseorang baik atau tidak?
Yakinku kembali membisu tak tahu mau mengatakan apalagi, raguku benar-benar telah menang telak. Aku memang baru saja akan bermain sebagai Tuhan. Memikirkannya pun aku malu.
Lalu bagaimana rasa solidaritasku kepada rekan seperjuangan? Tanggung jawabku terhadap komandan? Aku tak mungkin melepaskan itu semua begitu saja. Aku memang takut, tapi aku bukan pengecut.
Sekarang raguku telah melebur bersama yakinku. Aku tak akan melakukan ini, ya, tak akan. Di detik-detik terakhir aku tahu aku telah salah langka.
Aku berlari keluar.
***
Aku menoleh ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tak ada seorang pun di sini. Ini jalan yang kubuat, aku tak akan mundur lagi. Kubulatkan tekadku, dengan tarikan nafas panjang kutekan tombol merah yang semenjak tadi ada di genggaman tangan kiriku penuh keyakinan.
No comments:
Post a Comment