Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah berlari sekencang mungkin, tak tau arah dan tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku melangkah, hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu--cahaya yang menuntunku ke ujung jalan terang dan aku mulai mengenal suasana di sekelilingku.
Aku mendengar suara burung-burung kecil yang biasa menyapaku setiap pagi, hatiku terasa tenang sesaat. Di ujung jalan juga ada kursi kayu tua dan sebuah biola berwarna hitam. Biola itu hadiah dari ayah di hari ulang tahun Adikku Mely yang ke tujuh, ayah tahu betul bakatnya dalam bermain musik. Setiap sore Mely selalu memainkannya untukku, dia selalu berusaha membuatku tersenyum dengan senar merdunya.