March 11, 2013

Jalan


Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah berlari sekencang mungkin, tak tau arah dan tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku melangkah, hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu--cahaya yang menuntunku ke ujung jalan terang dan aku mulai mengenal suasana di sekelilingku.
Aku mendengar suara burung-burung kecil yang biasa menyapaku setiap pagi, hatiku terasa tenang sesaat. Di ujung jalan juga ada kursi kayu tua dan sebuah biola berwarna hitam. Biola itu hadiah dari ayah di hari ulang tahun Adikku Mely yang ke tujuh, ayah tahu betul bakatnya dalam bermain musik. Setiap sore Mely selalu memainkannya untukku, dia selalu berusaha membuatku tersenyum dengan senar merdunya.

Tombol Merah


            Di perempatan jalan aku terdiam, menunggu datangnya perintah sang ilahi—paling tidak itulah kata komandanku. Aku gemetar sekali, aku bahkan tak sanggup untuk berjalan lagi. Kuputuskan untuk berhenti di belakang sebuah kios kecil penjual minuman bersoda.
            “Minum, mas?” tanya seorang pria muda―mungkin seumuran denganku, sepertinya dia kasihan melihatku bersimbah keringat.
            Cukup lama dia menunggu responku, aku menggeleng pelan. Entah kenapa aku ragu untuk mengeluarkan suara. Rasanya satu saja suara keluar dari mulutku, semua orang akan langsung tahu siapa aku. mungkin memang aku terlalu gelisah. Ya, mungkin saja.

winter night

making love in a winter night almost like an invitation to a far away dreamland looking at a pair of moonlight eyes swelling heart i feel