Setelah sarapan pagi bersama istri dan anak-anakku, aku membaca koran di ruang santai keluarga. Sesasaat kemudian, ada seseorang yang memencet bel pagar depan. Istriku yang duduk di sebelahku dengan sigap berdiri, tetapi kuhentikan memberi isyarat padanya untuk duduk lagi.
Dengan langkah gontai aku menuju ruang tamu dan membuka pintu. Segera kuhampiri sosok yang berdiri di balik pagar rumahku yang setengah terbuka. Dari dekat kulihat seorang pria tua yang kemungkinan berusia 70 tahunan dengan tahi lalat di dagunya membawa sebuah kardus persegi panjang berukuran sedang. Pria tua itu tersenyum ramah padaku.
“Bapak mencari siapa?” tanyaku dengan sopan.
“Benar ini rumah pak Adrian?” jawabnya masih dengan senyum ramah terhias di wajahnya. Entah kenapa senyum itu mengingatkanku pada seseorang di masa lalu.
“Ya, dengan saya sendiri. Silahkan masuk.” Aku mempersilahkannya memasuki halaman rumahku. Lalu kami duduk di kursi teras yang berada di bawah pohon Akasia yang cukup rindang. Setelah merasa cukup nyaman, aku melontarkan pertanyaan padanya. “Ada urusan apa ya Bapak kemari?”
“Saya dari kampung Linggar,” jawabnya tenang.
Oh, aku langsung tahu apa maksud dari pak tua ini. Pasti ada hubungannya dengan proyek pembangunan.
“Maaf ya pak, kalau mau protes atau pengajuan apa pun lebih baik bapak menghubungi pengacara saya saja,” kukatakan itu dengan tegas. Aku heran, bagaimana Pak Tua ini tahu rumahku?
“Bukan, bukan. Saya tidak hendak protes kok. Justru saya bersyukur karena Pak Adrian sudah bersedia membangun kampung kami jadi aset kota yang lebih baik.”
“Jadi, maksud bapak datang kemari apa?” tanyaku masih curiga.
“Saya kesini cuma mau menyapa Pak Adrian saja karena saya baru tahu ternyata dulu pak Adrian ini juga berasal dari kampung Linggar. Abah kamu, Karim, dulu itu teman karib saya sejak kecil hingga kita dewasa. Sampai akhirnya kalian pindah keluar negeri saat kamu berusia 10 tahun.” Mata Pak Tua menerawang entah kemana tetapi jelas ada rasa rindu di setiap kata yang diucapkannya.
“Nama bapak, Sasongko?” orang tua itu mengangguk pelan. “Wah, dulu Abah memang sering cerita kalau mempunyai teman di kampung dan ingin sekali bertemu. Sayang sekali, Abah sakit dan meninggal sebelum sempat ke kampung Linggar,” kenangku tiba-tiba ikut pilu.
“Ya, saya dulu diberi kabar kalau si Karim meninggal di luar negeri. Saya sangat sedih nggak bisa datang ke pemakamannya.”
Ada jeda cukup panjang, kami berdua larut dalam kenangan masing-masing tentang abah. Sebelum akhirnya Pak Sasongko berdiri dan menyodorkan kardus berwarna putih yang sejak tadi dia rangkul di pangkuannya.
“Ini sebagai rasa terima kasih.”
“Oh, sama-sama,” meskipun aku masih kurang mengerti terima kasih macam apa yang dia maksud. “Apa ini, Pak? Bapak tidak perlu repot-repot memberi saya apa-apa,” tolakku halus.
“Tolong terima saja, nak, anggap saja kenang-kenangan dari teman lama Abahmu yang berasal dari satu kampung yang sama.” Aku tak kuasa lagi menolaknya. Kuterima kardus itu lalu mengantar Pak Sasongko keluar.
“Oh iya, soal kampung Linggar saya minta maaf ya Pak. Saya rasa hal itu memang yang terbaik,” ucapku akhirnya.
“Iya, nak. Saya percaya kok sama kamu,” Pak Sasongko mengucapkannya dengan sangat lembut seperti seorang bapak ke anaknya. Entah apa maksud dia percaya padaku, yang jelas belum sempat aku bertanya kepada Pak Sasongko sudah pergi entah kemana.
Saat akan menengok apa isi kardus yang diberi pak Sasongko tadi, aku mendapat telepon dari sekretarisku bahwa aku harus menghadiri sebuah acara di luar kota. Dengan buru-buru, aku ganti baju dan berpamitan kepada istriku. Setelah mencium keningnya, aku segera masuk mobil.
“Pa, kardus di ruang tamu ini milik Papa?” tanya istriku yang kembali keluar rumah dengan membawa kardus yang sejenak kulupakan tadi.
“Oh, iya. Tadi diberi temannya Abah. Taruh sini saja,” aku menunjuk jok kursi depan dan istriku meletakkannya tanpa bertanya apa isinya.
***
Acara yang sangat melelahkan, belum lagi makan siang bersama kolega-kolega yang penuh dengan basa-basi. Perjalanan pulang yang rasanya tak sampai-sampai dan bergelut dengan macet benar-benar membuatku semakin uring-uringan. Di penghujung jalan yang bercabang, entah kenapa aku malah membelokkan setirku ke arah kampung Linggar. Ah, biar saja aku juga ingin menengok kampung halamanku sebentar sebelum kurombak jadi ‘barang baru’.
Kuhentikan mobilku di jalanan kampung yang memisahkan sebuah ladang kosong dan bekas persawahan warga yang sekarang sudah ditindih dengan ribuan ton gundukan-gundukan tanah baru. Cahaya terik di sore hari memang selalu menjadi favoritku dari dulu. Bukan hanya karena hangat sinarnya, tetapi juga apa yang akan disuguhkan nantinya. Ya, langit merah jingga di ufuk barat sangatlah indah. Lukisan alami Tuhan untuk dinikmati manusia.
Jadi kuputuskan untuk keluar mobil dan duduk-duduk sebentar di pinggiran ladang yang menurun. Kuselonjorkan kakiku dengan santai, menunggu semburat jingga yang nantinya disusul tenggelamnya sang surya. Aku masih sangat ingat abah dan umi dulu sering bercerita tentang langit di kala senja adalah gambaran bidadari surga yang sedang tersipu. Indah sekali.
Penantianku tiba-tiba tertampar dengan kenyataan di depan mata, langit tak lagi jingga melainkan keruh bercampur dengan asap pabrik yang ada di seberang sungai kampung sebelah. Kecewa sekali rasanya keindahan alam lenyap hanya karena ulah manusia yang serakah. Kupendam dalam-dalam keinginanku melihat langit jingga di kampung halaman dan menuju mobilku lagi. Sesaat sebelum kunyalakan mesin mobil, mataku tertaut pada kardus putih yang sejak pagi kutelantarkan.
Segera kubuka kardus itu, ternyata isinya hanyalah sebuah surat. Tak heran mengapa kardus itu terasa sangat ringan, hampir seperti sebuah kardus kosong. Surat itu hanya ditulis tangan, coretan pena khas orang-orang dulu. Setelah menghela napas panjang, kubaca surat itu dalam hati.
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Saya Sasongko mewakili segenap warga kampung Linggar mengucapkan terima kasih kepada Pak Adrian yang telah berbaik hati mau mengubah kampung kami jadi lebih baik. Kampung kami, tempat kami menumpuk kenangan dan menciptakan kebahagiaan. Namun, saya percaya dengan Pak Adrian. Sangat percaya.
Di kardus ini juga saya titipkan sehelai kenangan yang pernah terukir dan setangkai ilalang terakhir di kampung kami.
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Singkat sekali isi suratnya, tapi sudah cukup membuat tenggorokanku tercekat. Dengan ragu kubuka lagi kardus itu, benar saja ada sebuah foto yang sepertinya diambil beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam foto tersebut ada dua anak lelaki yang hanya memakai celana pendek, keduanya tersenyum ceria dengan memperlihatkan giginya. Salah satu anak di foto itu mempunyai titik hitam kecil di dagunya dan satunya lagi mirip sekali denganku saat kecil dulu. Sangat mirip.
Belum lepas rasanya dari luapan emosi yang bercampur aduk, kuraba bagian dalam kardus itu lagi. Setangkai ilalang yang mengering tak bernyawa. Apa maksudnya?
Lalu kudengar sekelompok anak-anak kecil berteriak-teriak turun ke ladang kosong, salah satu diantara mereka membawa bola dan membagi mereka menjadi dua kelompok. Mereka semua bermain dengan gembira. Praktis seakan tanpa beban padahal separuh ladang sudah dikeruk oleh alat-alat berat. Terlihat kumpulan ilalang yang ditebang habis mencuat di samping tumpukan beton. Ah….
Entah benar apa tidak, sepertinya latar belakang foto yang diberi Pak Sasongko tadi adalah ladang ini. Entah kenapa aku juga merasa mengenal suasana seperti ini. Sepertinya dulu, Abah juga sering mengajakku bermain di sini. Hanya saja dulu sangat luas. Ya, tentu saja. Aku sendiri yang telah merusaknya. Aku kembali teringat dengan cemoohanku tentang asap pabrik beberapa saat lalu, dan sekarang aku merasa malu dengan diriku sendiri.
Kunikmati saja permainan bola asal-asalan para bocah itu. Beberapa patokan tanda tak boleh dilintasi tak sedikit pun membuat mereka tak leluasa bermain. Andai saja mereka bermain agak siang, mungkin saja mereka akan diusir para preman perusahaan menakutkan yang telah aku sewa untuk menjaga tanah yang sudah terbeli. Mungkin juga mereka akan dipukuli jika membangkang. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.
Ya Tuhan, bukankah aku jauh lebih menakutkan? Preman-preman itu mungkin hanya akan merampas kesenangan anak-anak kecil bermain bola sore ini. Namun aku, aku akan dan telah menghancurkan kenangan serta kebahagian seluruh penduduk kampung. Bulir-bulir air mata membasahi pipiku. Bagaimana aku bisa menjadi manusia egois yang selama ini kubenci?
Tuhan memang seakan telah sengaja mengirim Pak Sasongko dan mengarahkan setirku menuju kampung Linggar kampung yang bulan depan akan kurombak habis menjadi wajah baru ala ibu kota. Pengacara hebatku telah memenangkan perusahaanku di pengadilan, peduduk kampung Linggar tak punya pilihan lain selain menjual rumah dan tanah mereka. Karena kalau tidak begitu mereka tidak akan mendapat apa-apa dan digusur secara paksa.
Ya, penduduk kampung Linggar memang tak punya pilihan. Namun, aku punya. Pak Sasongko telah memberikan setangkai ilalang terakhir dari kampung Linggar dan hanya akulah yang akan membuat ilalang itu tumbuh lagi atau hanya akan menjadi ilalang yang mengering dan lama-kelamaan mati. Dengan hati mantap aku mengeluarkan telepon genggamku dari saku celana dan menghubungi sekretarisku.
“Lin, segera buatkan surat pembatalan proyek pembangunan di kampung Lintar!” ucapku masih dengan suara bergetar bercampur dengan perasaan lega bahagia.
x
x
No comments:
Post a Comment