Pintu gerbang nyaris ditutup
saat aku berlari turun dari mobil ayah. Tentu saja aku nggak mau masuk BP untuk
kedua kalinya. Berhasil. Aku mempercepat langkah untuk segera masuk ke kelas.
Semoga saja aku nggak keduluan Bu Yuni masuk ke kelas, guruku yang satu itu
sedikit mengerikan kalau menghukum muridnya yang telat masuk kelas sebelum dia.
Kelas sudah ramai ketika aku masuk ke kelas, ternyata Bu Yuni nggak masuk.
Berhasil lagi. Segera saja aku menuju bangkuku.
”Val, kamu tau nggak si Ayu
tuh sekarang terang-terangan ngedeketin si Abi. Kamu kudu cepet-cepet
bertindak!” Bisik
Dira sedikit teredam oleh suara kelas yang lebih mirip pasar.
"Heh, bertindak
gimana? Biarin aja kali Dir, toh si Abi nggak nanggepin kan. Aku tau benar
kalau Ayu bukan type Abi banget,” jelasku. Tapi ketika ngeliat Ayu yang duduk –lebih tepatnya
merapat– di sebelah Abi sedikit membuatku ragu. Setelah mempertajam
pendengaranku, aku tau ternyata Ayu ngajak Abi nonton. Wow, sangat agresif. Dan
untungnya Abi menolaknya. Haha
”Tuh kan Dir, Abi tuh nggak
minat sama sekali ma Ayu,” aku terkikik membayangkan Ayu pasti malu banget secara
–paling tidak sampai 5 menit yang lalu– belum pernah ada yang menolaknya.
Kasihan.
Bukan Dira namanya kalau
nggak bisa mencemaskan segala sesuatu. Sobatku satu itu emang terkadang sedikit
lebay, apalagi saat dia tau kalau aku menyukai Abi. Yapz, aku mencintainya.
Mungkin berlebihan menyebutnya cinta di saat umurku masih 14 tahun, tapi itulah
yang aku rasakan. Abi-ku. Cinta pertamaku.
Awal ketertarikanku padanya
berawal saat aku pertama kali duduk di sebelahnya. Dia mempunyai aroma parfum
khas dan menyegarkan yang membuatku betah berlama-lama disampingnya. Kami juga
semakin akrab justru dari pertengkaran-pertengkaran kecil yang sering terjadi
diantara kami. Ada saja hal sepele yang lantas membuat kami beradu argumen dan
berlanjut dengan saling beradu kekuatan. Aku selalu menjadi pemenang, bukan
berarti karena aku lebih kuat tetapi aku tau bahwa dia sengaja mengalah
untukku. Sehingga tak jarang pula berakhir dengan tawa lepas dari kami. Dia
sering sekali mengusiliku hingga aku sebal sendiri. Waktu itu sungguh aku
membencinya, I swear. Tapi semakin bertambahnya hari aku semakin menikmatinya,
membuatnya menjadi hiburan dalam bentukku sendiri. Ternyata, lama kelamaan
semua teman kami mulai menyadari ‘keakraban’ kami. Bahkan ada yang bilang
dimana ada Valey di situ ada Abi.
Saat itulah Dira menanyaiku
tentang perasaanku yang sebenarnya terhadap Abi dan tentu saja aku nggak bisa
bohong kepada sahabatku sendiri. Tapi terkadang Dira membuatku menyesal telah
memberi tahunya, dialah yang selalu memaksaku untuk memberi tahu Abi tentang
perasaanku. Gila. Tentu saja aku nggak mau, aku nggak mau kalau persahabatanku
dengan Abi jadi canggung apalagi rusak karenanya. Well, di sisi lain aku memang
takut kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku sangat takut.
”Val, tangkap!” Abi melemparkan sesuatu
ke arahku. Aku yang baru tersadar dari lamunan singkatku kontan saja kaget saat
sebuah penghapus mendarat tepat di wajaku.
”Aduh!” Aku menjerit. Dira
meringis. Abi tertawa. Bagus. Ku ambil penghapus yang tergeletak tak berdaya di
lantai dan membuangnya ke luar jendela. 1-1, aku menjulurkan lidah ke arah Abi
yang masih tertawa.
”Heh, itu kan penghapusku
satu-satunya. Awas kamu Val, pokoknya harus ganti.” Katanya mengerucutkan
bibir, aku tau dia cuma pura-pura ngambek.
”Yeee, salah sendiri orang
nggak salah apa-apa dilempar pake penghapus. Sakit tau!” Balasku. Kali ini aku
yang tertawa.
”Nah kamu dipanggil malah
diem aja, ngelamun apaan sich?” Aku memutar bola mataku ke Dira, dia hanya mengangguk setuju.
Emang aku tadi ngelamun apa?
”Emang ngomong apaan sich?
Maaf tadi aku nggak konsen mikirin ulangan fisika kemarin,” dustaku.
”Lusa kan kelas kita futsal
ngelawan kelas 8-G, kamu dateng yach. Awas kalau nggak!” Aku berpura-pura berpikir
lama. ”Ayolah
Val..” Abi
memohon dan tentu saja aku nggak bisa lama-lama berpura-pura mengabaikannya.
”Iya iya, emang pernah apa
aku nggak dateng waktu kelas kita tanding? Secara aku kan promotor yang bikin
kelas kita dapet awards suporter teramai,” kataku bangga. Dira dan Abi serempak bertingkah seakan-akan
pengen muntah. Menyebalkan.
”Ke kantin yuk, aku tadi
belum sempet sarapan ney. Ayo bi, traktir yach!” Pintaku sok imut. Dia nggak mungkin nolak,
toh aku udah janji mau dateng nonton futsal. Akhirnya kami menuju ke kantin
dengan tawa dan canda.
***
Kepalaku sedikit pusing
ketika semua anak sedang membicarakan membicarakan tentang hasil futsal kemarin
sore. Tim kelas kami menang, tentu saja semua sedang exited banget karena
tinggal satu pertandingan lagi tim kami akan memenangkan hadiah utama di final
nanti.
”Val, bawa kamus nggak?” tanya seorang anak. Aku
mengangkat kepalaku yang sejak tadi ku tidurkan di meja. Ternyata Lena. Aku
menggeleng pelan, tanpa harus memeriksa tas aku tau sekali bahwa bukan
kebiasaanku membawa kamus. Bukan berniat sombong, tapi vocab bahasa inggrisku
sudah lebih dari cukup sehingga aku tak perlu menambah beban tas sekolahku
lagi. Tepat sebelum Lena berbalik lagi ke bangkunya, aku melirik kamus lamaku
yang menyembul dari balik tasku.
”Tunggu Len!” Seruku. ”Ternyata aku bawa, ney.” Kataku sambil
menyerahkan kamus itu. Sedikit binggung juga aku kenapa bisa kamus itu ada di
tas, sepertinya bahkan sudah lama aku nggak menyentuhnya. Ouh, tadi malem kan
mama yang menata buku pelajaranku untuk hari ini, emang dari kemarin aku
ngerasa sedikit nggak enak badan. Mungkin karena hari ini ada pelajaran bahasa
inggris jadi tentu saja mama juga memasukkan kamus itu.
”Thank Val,” ujar Lena yang hampir
tak terdengar. Aku kembali menundukkan kepalaku ke meja. Sekarang kan sudah
istirahat tapi entah kenapa anak-anak malah masih ribut di kelas, kepalaku jadi
tambah pusing. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa ternyata
hampir semua anak sedang mengerjakan PR, Cuma beberapa yang hanya mengganggu
anak lainnya. Contohnya saja si Rizki, tuh anak mungkin udah pasrah jadi dia
nggak perlu ngerjain soal-soal seabrek yang jelas nggak dimengerti oleh otaknya
yang nggak lebih besar dari otak udang. Aku mencari sosok Abi, aku yakin dia
udah ngerjaen PR tapi kenapa dia nggak ada di bangkunya?
”PERHATIAN-PERHATIAN,” teriak Rizki di depan
kelas. Kontan saja semua anak menghentikan sejenak kegiatannya masing-masing.
Semua bertanya-tanya, namun dia hanya tersenyum-senyum penuh arti menyapukan
pandangannya ke setiap sudut kelas kemudian berhenti tepat saat menatap mataku.
Dia menyuruh semua anak untuk diam, tangan kanannya memegang sebuah surat
berwarna hijau lumut. Sejenak aku merasa sangat familiar dengan surat itu,
entah kenapa sepertinya aku sangat mengenalnya. Belum sempat aku menerka-nerka,
si Rizki kembali berceloteh..
”Dengerin yah teman-teman,
ini adalah surat cinta salah satu teman kita!” Semua berseru riang mengetahui apa maksud
Rizki. Aku jadi ikut menyaksikan meskipun nggak terlalu tertarik tentang isi
kertas itu, aku hanya sedikit penasaran.
”Ehm..ehm..” Rizki bertingkah
seolah-olah akan berpidato di hadapan jutaan orang. ”Abi-ku...sekali lagi
hatiku terasa hangat setiap kali mengucap namamu.” Aku tersentak saat bait
pertama dibacakan. ”Tahukah kamu betapa dalamnya rasa ini cuma buat kamu??” Terusnya. Aku berdiri, ku
langkahkan kaki secepat kilat sebelum Rizki membaca keseluruhan surat itu. Saat
ku lewati bangku Lena, wajanya memelas memohon maaf. Aku tak peduli, aku hanya
ingin merebut surat itu. Suratku.
”Ki, balikin nggak tuh
surat!” Bentakku.
Sekarang semua anak pasti sadar bahwa surat itu adalah milikku. Rizki bergeming
tetap mempertahankan surat itu di genggaman tangannya. Tentu saja sulit bagiku
mengambil surat itu darinya yang bertubuh jauh lebih tinggi dariku. ”Jangan sampek bikin aku....” Belum sempat aku melanjutkan
kata-kata, aku melihat sosok yang duduk di bangku deretan depan sebelah kiri.
Abi.
Abi!
”Bi...” Aku nggak sanggup
berkata lebih saat dia menatap tajam ke arahku. Aku kehilangan keseimbangan.
Udara seakan sangat sulit ku hirup. Ruang seakan menghimpitku dengan kerasnya.
Aku tak tahan, aku putuskan keluar kelas menuju toilet cewek. Entah kenapa aku
merasa akan lebih baik menyendiri disana.
Suasana cukup sepi di sini,
jadi keputusanku tepat. Ku sandarkan tubuhku di sudut ruangan. Ku putar ulang
kejadian beberapa menit yang lalu. Bagaimana bisa surat itu yang ku tulis lebih
dari setahun yang lalu tiba-tiba dibaca oleh si freaky-rizki? Kepalaku terasa
kembali pusing saat akhirnya aku ingat bahwa surat itu sudah sejak dulu ku
selipkan di kamus tuaku. Oh my gosh, kenapa semua jadi kayak gini. Ku peluk
lutut kakiku, sejenak aku merasa sangat sendirian.
”Val...” suara Dira
menyadarkanku. Aku menoleh, sejak kapan dia duduk di sampingku? ”Maaf yach Val,” katanya pelan. Kenapa Dira
minta maaf? Kepalaku terasa berat bahkan hanya sekedar untuk bertanya.
Sepertnya Dira mengerti aku sedang bingung, ”Maaf karena nggak ada di samping kamu. Aku
tadi ke kopsis bentar, aku nggak nyangka bakal...” Dira sengaja
menggantung kata supaya tak perlu mengulang kejadian memalukan tadi.
”Nggak apa-apa kok Dir, aku
juga nggak nyangka bakal kayak gini. Emang brengsek tuh Rizki, kalo gini kan
semua jadi tau perasaanku ma Abi.” Aku mencoba bercanda tapi justru terdengar sangat
menyedihkan. Suasana kembali senyap. Ini yang aku suka dari Dira, dia seakan
tahu bahwa hanya keheninganlah yang aku butuhkan sehingga dia tidak perlu
bicara banyak hanya sekedar menghiburku. Tapi toh itu tak cukup menenangkanku.
Aku masih ingat tatapan tajam itu. Aku bahkan belum pernah melihat Abi seperti
itu. Apakah dia marah? Atau kecewa merasa telah aku khianati? Semakin erat ku
peluk lututku. Tubuhku bergetar. Aku termasuk cewek yang hampir tak pernah
menangis, tapi justru itu membuat hatiku semakin perih menahan kesedihan ini.
Dira ikut memelukku.
”Udah yach Val, aku tau
kamu pasti kuat. Aku akan selalu di samping kamu. Aku nggak akan biarin
siapapun nyakitin kamu, nggak juga Abi,” bisiknya. Lega rasanya mempunyai sahabat seperti Dira, aku
pasti sangat membutuhkannya mulai saat ini. Tapi bukan tatapan semua anak yang
aku takutkan, aku bahkan tak akan sanggup menatap Abi lagi. Malu sekaligus
marah pada diriku sendiri.
Aku berdiri. Sudah aku
putuskan untuk kembali ke kelas dan menghadapi apapun di kelas nanti. Dira
sepertinya sedikit ragu namun akhirnya setuju juga dengan sikapku. ”Aku tau
kamu pasti bisa!” dira mengulang kembali kata-katanya.
Kami mengetok pintu pelan dan
meminta ijin setelah dari kamar mandi. Mrs. Norman mempersilahkan kami masuk
dengan tersenyum, tak salah aku menganggapnya sebagai guru fevorit. Aku
mendengar kasak-kusuk dari berbagai arah saat aku berjalan menuju bangkuku.
Tepat saat aku melewati bangku Abi, hatiku terpilin mengetahui dia mengalihkan
pandangannya ke buku saat mata kami bertemu. Aku tau akan seperti ini jadinya.
Aku duduk perlahan sambil mengeluarkan alat-alat tulis yang kubutuhkan. Mrs.
Norman sedang menjelaskan adjective clause saat perhatianku justru terpusat
mencoba mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan Abi. Aku memandang
punggungnya, begitu sempurna.
Tak terasa bel berbunyi tanda
jam sekolah usai.
***
Sudah dua bulan lebih lamanya
sejak insiden pembacaan surat memalukan itu berlalu. Beberapa anak
melupakannya, namun ada beberapa juga kembali mengunggkitnya hanya untuk
sekedar bercanda. Suasana kelas kembali seperti dulu, riang dan santai. Tapi
Abi nggak. Kentara sekali dia menghindariku. Aku tau dia sangat nggak nyaman
duduk di depan bangkuku, tapi dia nggak punya pilihan lain sampai beberapa
bulan ke depan. Aku jadi merasa sangat canggung karenanya. Ada saat aku ingin
sekali memutar waktu dan membuang surat sialan itu. Tapi toh itu nggak mungkin,
jadi aku putuskan menjalani hari-hari dengan wajar meski tak seorang pun tau
apa yang aku rasakan saat ini.
Hatiku bagaikan ditusuk
dengan satu jarum secara rutin setiap harinya, aku tak sanggup menolaknya. Jika
aku mecoba mencabutnya, itu hanya akan memberiku rasa sakit itu lagi dan
meninggalkan luka perih menganga yang tak kunjung sembuhnya. Jadi satu-satunya
yang bisa kulakukan hanyalah bertahan melawan rasa sakit itu berharap suatu
saat luka-luka itu kering dan jarum-jarum itu terlepas dengan sendirinya. Waktu
menyembuhkan segala luka. Semoga kata-kata itu benar!
Abi kembali menyusupkan
tangannya ke sela-sela rambutnya, kebiasaannya saat merasa binggung. Dia
menghela nafas dan kembali menulis. Aku tersenyum. Mungkin dulu aku akan
melemparkan pensil atau sesuatu untuk mengganggu konsentrasinya, lalu dia akan
berbalik dan membalasku. Tapi itu dulu. Aku tau semua tak akan kembali seperti
dulu. Seperti sekarang, satu-satunya moment yang bisa kupertahankan bersamanya
adalah memandang siluet punggungnya sepuas hatiku. Perlahan aku berbisik..
Abi. Kamulah yang pertama
mengisi hatiku, mengajarkanku tentang cinta bahkan di usia yang sangat belia.
Dan di sisi lain, kamu jugalah yang mengenalkanku akan sakitnya patah hati.
Cuma satu hal yang ingin aku kasih tau ke kamu, aku nggak pernah menyesal bahwa
kamulah cinta pertamaku. Aku nggak akan melupakanmu. First love will never die,
right? My first sweet heart, yet you are also my first broken heart. It's okay,
suatu saat nanti aku akan mengenang ini semua sebagai kisah manis yang tidak
akan memberiku kesedihan lagi melainkan sebuah senyuman disetiap kali aku
mengingatnya. Dan aku masih berharap kita bisa seperti dulu lagi. I miss you,
Bi..!!
”Dir, ke kantin yuk. Aku yang
nraktir deh!” Ujarku. Dira sedikit binggung melihatku kembali bersemangat. Tapi
layaknya sahabat yang baik, Dira pun bahagia merasakan euphoria atas kembalinya
diriku. Dengan melonjak-lonjak –dengan sedikit kekanak-kanakan, kami berlari
keluar kelas. Aku merasakan pandangan Abi mengikuti lankah kaki kami, dengan
sengaja aku melempar senyum padanya dan kembali berlari. Aku tau abi dan dira
pasti menganggapku sudah sinting, tapi biarlah semua begini adanya. Aku sudah
siap menghadapi hari-hariku ke depan.
AKU PASTI BISA!!
Ps: I wrote this when I was still in 7th grade so pardon for being
corny
No comments:
Post a Comment