August 4, 2010

My First Sweet Heart My First Broken Heart


Pintu gerbang nyaris ditutup saat aku berlari turun dari mobil ayah. Tentu saja aku nggak mau masuk BP untuk kedua kalinya. Berhasil. Aku mempercepat langkah untuk segera masuk ke kelas. Semoga saja aku nggak keduluan Bu Yuni masuk ke kelas, guruku yang satu itu sedikit mengerikan kalau menghukum muridnya yang telat masuk kelas sebelum dia. Kelas sudah ramai ketika aku masuk ke kelas, ternyata Bu Yuni nggak masuk. Berhasil lagi. Segera saja aku menuju bangkuku.
”Val, kamu tau nggak si Ayu tuh sekarang terang-terangan ngedeketin si Abi. Kamu kudu cepet-cepet bertindak!” Bisik Dira sedikit teredam oleh suara kelas yang lebih mirip pasar.

"Heh, bertindak gimana? Biarin aja kali Dir, toh si Abi nggak nanggepin kan. Aku tau benar kalau Ayu bukan type Abi banget,” jelasku. Tapi ketika ngeliat Ayu yang duduk –lebih tepatnya merapat– di sebelah Abi sedikit membuatku ragu. Setelah mempertajam pendengaranku, aku tau ternyata Ayu ngajak Abi nonton. Wow, sangat agresif. Dan untungnya Abi menolaknya. Haha

”Tuh kan Dir, Abi tuh nggak minat sama sekali ma Ayu,” aku terkikik membayangkan Ayu pasti malu banget secara –paling tidak sampai 5 menit yang lalu– belum pernah ada yang menolaknya. Kasihan.

Bukan Dira namanya kalau nggak bisa mencemaskan segala sesuatu. Sobatku satu itu emang terkadang sedikit lebay, apalagi saat dia tau kalau aku menyukai Abi. Yapz, aku mencintainya. Mungkin berlebihan menyebutnya cinta di saat umurku masih 14 tahun, tapi itulah yang aku rasakan. Abi-ku. Cinta pertamaku.

Awal ketertarikanku padanya berawal saat aku pertama kali duduk di sebelahnya. Dia mempunyai aroma parfum khas dan menyegarkan yang membuatku betah berlama-lama disampingnya. Kami juga semakin akrab justru dari pertengkaran-pertengkaran kecil yang sering terjadi diantara kami. Ada saja hal sepele yang lantas membuat kami beradu argumen dan berlanjut dengan saling beradu kekuatan. Aku selalu menjadi pemenang, bukan berarti karena aku lebih kuat tetapi aku tau bahwa dia sengaja mengalah untukku. Sehingga tak jarang pula berakhir dengan tawa lepas dari kami. Dia sering sekali mengusiliku hingga aku sebal sendiri. Waktu itu sungguh aku membencinya, I swear. Tapi semakin bertambahnya hari aku semakin menikmatinya, membuatnya menjadi hiburan dalam bentukku sendiri. Ternyata, lama kelamaan semua teman kami mulai menyadari ‘keakraban’ kami. Bahkan ada yang bilang dimana ada Valey di situ ada Abi.

Saat itulah Dira menanyaiku tentang perasaanku yang sebenarnya terhadap Abi dan tentu saja aku nggak bisa bohong kepada sahabatku sendiri. Tapi terkadang Dira membuatku menyesal telah memberi tahunya, dialah yang selalu memaksaku untuk memberi tahu Abi tentang perasaanku. Gila. Tentu saja aku nggak mau, aku nggak mau kalau persahabatanku dengan Abi jadi canggung apalagi rusak karenanya. Well, di sisi lain aku memang takut kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku sangat takut.

”Val, tangkap!” Abi melemparkan sesuatu ke arahku. Aku yang baru tersadar dari lamunan singkatku kontan saja kaget saat sebuah penghapus mendarat tepat di wajaku.

”Aduh!” Aku menjerit. Dira meringis. Abi tertawa. Bagus. Ku ambil penghapus yang tergeletak tak berdaya di lantai dan membuangnya ke luar jendela. 1-1, aku menjulurkan lidah ke arah Abi yang masih tertawa.

”Heh, itu kan penghapusku satu-satunya. Awas kamu Val, pokoknya harus ganti.” Katanya mengerucutkan bibir, aku tau dia cuma pura-pura ngambek.

”Yeee, salah sendiri orang nggak salah apa-apa dilempar pake penghapus. Sakit tau!” Balasku. Kali ini aku yang tertawa.

”Nah kamu dipanggil malah diem aja, ngelamun apaan sich?” Aku memutar bola mataku ke Dira, dia hanya mengangguk setuju. Emang aku tadi ngelamun apa?

”Emang ngomong apaan sich? Maaf tadi aku nggak konsen mikirin ulangan fisika kemarin,” dustaku.

”Lusa kan kelas kita futsal ngelawan kelas 8-G, kamu dateng yach. Awas kalau nggak!” Aku berpura-pura berpikir lama. ”Ayolah Val..” Abi memohon dan tentu saja aku nggak bisa lama-lama berpura-pura mengabaikannya.

”Iya iya, emang pernah apa aku nggak dateng waktu kelas kita tanding? Secara aku kan promotor yang bikin kelas kita dapet awards suporter teramai,” kataku bangga. Dira dan Abi serempak bertingkah seakan-akan pengen muntah. Menyebalkan.

”Ke kantin yuk, aku tadi belum sempet sarapan ney. Ayo bi, traktir yach!” Pintaku sok imut. Dia nggak mungkin nolak, toh aku udah janji mau dateng nonton futsal. Akhirnya kami menuju ke kantin dengan tawa dan canda.

***
Kepalaku sedikit pusing ketika semua anak sedang membicarakan membicarakan tentang hasil futsal kemarin sore. Tim kelas kami menang, tentu saja semua sedang exited banget karena tinggal satu pertandingan lagi tim kami akan memenangkan hadiah utama di final nanti.

”Val, bawa kamus nggak?” tanya seorang anak. Aku mengangkat kepalaku yang sejak tadi ku tidurkan di meja. Ternyata Lena. Aku menggeleng pelan, tanpa harus memeriksa tas aku tau sekali bahwa bukan kebiasaanku membawa kamus. Bukan berniat sombong, tapi vocab bahasa inggrisku sudah lebih dari cukup sehingga aku tak perlu menambah beban tas sekolahku lagi. Tepat sebelum Lena berbalik lagi ke bangkunya, aku melirik kamus lamaku yang menyembul dari balik tasku.

”Tunggu Len!” Seruku. ”Ternyata aku bawa, ney.” Kataku sambil menyerahkan kamus itu. Sedikit binggung juga aku kenapa bisa kamus itu ada di tas, sepertinya bahkan sudah lama aku nggak menyentuhnya. Ouh, tadi malem kan mama yang menata buku pelajaranku untuk hari ini, emang dari kemarin aku ngerasa sedikit nggak enak badan. Mungkin karena hari ini ada pelajaran bahasa inggris jadi tentu saja mama juga memasukkan kamus itu.

”Thank Val,” ujar Lena yang hampir tak terdengar. Aku kembali menundukkan kepalaku ke meja. Sekarang kan sudah istirahat tapi entah kenapa anak-anak malah masih ribut di kelas, kepalaku jadi tambah pusing. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa ternyata hampir semua anak sedang mengerjakan PR, Cuma beberapa yang hanya mengganggu anak lainnya. Contohnya saja si Rizki, tuh anak mungkin udah pasrah jadi dia nggak perlu ngerjain soal-soal seabrek yang jelas nggak dimengerti oleh otaknya yang nggak lebih besar dari otak udang. Aku mencari sosok Abi, aku yakin dia udah ngerjaen PR tapi kenapa dia nggak ada di bangkunya?

”PERHATIAN-PERHATIAN,” teriak Rizki di depan kelas. Kontan saja semua anak menghentikan sejenak kegiatannya masing-masing. Semua bertanya-tanya, namun dia hanya tersenyum-senyum penuh arti menyapukan pandangannya ke setiap sudut kelas kemudian berhenti tepat saat menatap mataku. Dia menyuruh semua anak untuk diam, tangan kanannya memegang sebuah surat berwarna hijau lumut. Sejenak aku merasa sangat familiar dengan surat itu, entah kenapa sepertinya aku sangat mengenalnya. Belum sempat aku menerka-nerka, si Rizki kembali berceloteh..

”Dengerin yah teman-teman, ini adalah surat cinta salah satu teman kita!” Semua berseru riang mengetahui apa maksud Rizki. Aku jadi ikut menyaksikan meskipun nggak terlalu tertarik tentang isi kertas itu, aku hanya sedikit penasaran.

”Ehm..ehm..” Rizki bertingkah seolah-olah akan berpidato di hadapan jutaan orang. ”Abi-ku...sekali lagi hatiku terasa hangat setiap kali mengucap namamu.” Aku tersentak saat bait pertama dibacakan. ”Tahukah kamu betapa dalamnya rasa ini cuma buat kamu??” Terusnya. Aku berdiri, ku langkahkan kaki secepat kilat sebelum Rizki membaca keseluruhan surat itu. Saat ku lewati bangku Lena, wajanya memelas memohon maaf. Aku tak peduli, aku hanya ingin merebut surat itu. Suratku.

”Ki, balikin nggak tuh surat!” Bentakku. Sekarang semua anak pasti sadar bahwa surat itu adalah milikku. Rizki bergeming tetap mempertahankan surat itu di genggaman tangannya. Tentu saja sulit bagiku mengambil surat itu darinya yang bertubuh jauh lebih tinggi dariku. ”Jangan sampek bikin aku....” Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, aku melihat sosok yang duduk di bangku deretan depan sebelah kiri. Abi.

Abi!

”Bi...” Aku nggak sanggup berkata lebih saat dia menatap tajam ke arahku. Aku kehilangan keseimbangan. Udara seakan sangat sulit ku hirup. Ruang seakan menghimpitku dengan kerasnya. Aku tak tahan, aku putuskan keluar kelas menuju toilet cewek. Entah kenapa aku merasa akan lebih baik menyendiri disana.

Suasana cukup sepi di sini, jadi keputusanku tepat. Ku sandarkan tubuhku di sudut ruangan. Ku putar ulang kejadian beberapa menit yang lalu. Bagaimana bisa surat itu yang ku tulis lebih dari setahun yang lalu tiba-tiba dibaca oleh si freaky-rizki? Kepalaku terasa kembali pusing saat akhirnya aku ingat bahwa surat itu sudah sejak dulu ku selipkan di kamus tuaku. Oh my gosh, kenapa semua jadi kayak gini. Ku peluk lutut kakiku, sejenak aku merasa sangat sendirian.

”Val...” suara Dira menyadarkanku. Aku menoleh, sejak kapan dia duduk di sampingku? ”Maaf yach Val,” katanya pelan. Kenapa Dira minta maaf? Kepalaku terasa berat bahkan hanya sekedar untuk bertanya. Sepertnya Dira mengerti aku sedang bingung, ”Maaf karena nggak ada di samping kamu. Aku tadi ke kopsis bentar, aku nggak nyangka bakal...” Dira sengaja menggantung kata supaya tak perlu mengulang kejadian memalukan tadi.

”Nggak apa-apa kok Dir, aku juga nggak nyangka bakal kayak gini. Emang brengsek tuh Rizki, kalo gini kan semua jadi tau perasaanku ma Abi.” Aku mencoba bercanda tapi justru terdengar sangat menyedihkan. Suasana kembali senyap. Ini yang aku suka dari Dira, dia seakan tahu bahwa hanya keheninganlah yang aku butuhkan sehingga dia tidak perlu bicara banyak hanya sekedar menghiburku. Tapi toh itu tak cukup menenangkanku. Aku masih ingat tatapan tajam itu. Aku bahkan belum pernah melihat Abi seperti itu. Apakah dia marah? Atau kecewa merasa telah aku khianati? Semakin erat ku peluk lututku. Tubuhku bergetar. Aku termasuk cewek yang hampir tak pernah menangis, tapi justru itu membuat hatiku semakin perih menahan kesedihan ini. Dira ikut memelukku.

”Udah yach Val, aku tau kamu pasti kuat. Aku akan selalu di samping kamu. Aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu, nggak juga Abi,” bisiknya. Lega rasanya mempunyai sahabat seperti Dira, aku pasti sangat membutuhkannya mulai saat ini. Tapi bukan tatapan semua anak yang aku takutkan, aku bahkan tak akan sanggup menatap Abi lagi. Malu sekaligus marah pada diriku sendiri.

Aku berdiri. Sudah aku putuskan untuk kembali ke kelas dan menghadapi apapun di kelas nanti. Dira sepertinya sedikit ragu namun akhirnya setuju juga dengan sikapku. ”Aku tau kamu pasti bisa!” dira mengulang kembali kata-katanya.

Kami mengetok pintu pelan dan meminta ijin setelah dari kamar mandi. Mrs. Norman mempersilahkan kami masuk dengan tersenyum, tak salah aku menganggapnya sebagai guru fevorit. Aku mendengar kasak-kusuk dari berbagai arah saat aku berjalan menuju bangkuku. Tepat saat aku melewati bangku Abi, hatiku terpilin mengetahui dia mengalihkan pandangannya ke buku saat mata kami bertemu. Aku tau akan seperti ini jadinya. Aku duduk perlahan sambil mengeluarkan alat-alat tulis yang kubutuhkan. Mrs. Norman sedang menjelaskan adjective clause saat perhatianku justru terpusat mencoba mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan Abi. Aku memandang punggungnya, begitu sempurna.

Tak terasa bel berbunyi tanda jam sekolah usai.

***
Sudah dua bulan lebih lamanya sejak insiden pembacaan surat memalukan itu berlalu. Beberapa anak melupakannya, namun ada beberapa juga kembali mengunggkitnya hanya untuk sekedar bercanda. Suasana kelas kembali seperti dulu, riang dan santai. Tapi Abi nggak. Kentara sekali dia menghindariku. Aku tau dia sangat nggak nyaman duduk di depan bangkuku, tapi dia nggak punya pilihan lain sampai beberapa bulan ke depan. Aku jadi merasa sangat canggung karenanya. Ada saat aku ingin sekali memutar waktu dan membuang surat sialan itu. Tapi toh itu nggak mungkin, jadi aku putuskan menjalani hari-hari dengan wajar meski tak seorang pun tau apa yang aku rasakan saat ini.

Hatiku bagaikan ditusuk dengan satu jarum secara rutin setiap harinya, aku tak sanggup menolaknya. Jika aku mecoba mencabutnya, itu hanya akan memberiku rasa sakit itu lagi dan meninggalkan luka perih menganga yang tak kunjung sembuhnya. Jadi satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah bertahan melawan rasa sakit itu berharap suatu saat luka-luka itu kering dan jarum-jarum itu terlepas dengan sendirinya. Waktu menyembuhkan segala luka. Semoga kata-kata itu benar!

Abi kembali menyusupkan tangannya ke sela-sela rambutnya, kebiasaannya saat merasa binggung. Dia menghela nafas dan kembali menulis. Aku tersenyum. Mungkin dulu aku akan melemparkan pensil atau sesuatu untuk mengganggu konsentrasinya, lalu dia akan berbalik dan membalasku. Tapi itu dulu. Aku tau semua tak akan kembali seperti dulu. Seperti sekarang, satu-satunya moment yang bisa kupertahankan bersamanya adalah memandang siluet punggungnya sepuas hatiku. Perlahan aku berbisik..

Abi. Kamulah yang pertama mengisi hatiku, mengajarkanku tentang cinta bahkan di usia yang sangat belia. Dan di sisi lain, kamu jugalah yang mengenalkanku akan sakitnya patah hati. Cuma satu hal yang ingin aku kasih tau ke kamu, aku nggak pernah menyesal bahwa kamulah cinta pertamaku. Aku nggak akan melupakanmu. First love will never die, right? My first sweet heart, yet you are also my first broken heart. It's okay, suatu saat nanti aku akan mengenang ini semua sebagai kisah manis yang tidak akan memberiku kesedihan lagi melainkan sebuah senyuman disetiap kali aku mengingatnya. Dan aku masih berharap kita bisa seperti dulu lagi. I miss you, Bi..!!

”Dir, ke kantin yuk. Aku yang nraktir deh!” Ujarku. Dira sedikit binggung melihatku kembali bersemangat. Tapi layaknya sahabat yang baik, Dira pun bahagia merasakan euphoria atas kembalinya diriku. Dengan melonjak-lonjak –dengan sedikit kekanak-kanakan, kami berlari keluar kelas. Aku merasakan pandangan Abi mengikuti lankah kaki kami, dengan sengaja aku melempar senyum padanya dan kembali berlari. Aku tau abi dan dira pasti menganggapku sudah sinting, tapi biarlah semua begini adanya. Aku sudah siap menghadapi hari-hariku ke depan.

AKU PASTI BISA!!




Ps: I wrote this when I was still in 7th grade so pardon for being corny

No comments:

Post a Comment

winter night

making love in a winter night almost like an invitation to a far away dreamland looking at a pair of moonlight eyes swelling heart i feel