May 19, 2013

Stranger


So down to baggage claim I went, twenty minutes at the carousel before it finally started to begin the slow dispersion of luggage. I had my notebook with me already, of course, and only had two small pieces of luggage, which after another ten minutes had dropped on to the carousel and was making its way towards me. The tall brown-haired man was smiling at me and I remembered what I had on—I was going to have to be careful not to give a show. I was distracted enough and so uneasy under his steady gaze that my luggage passed me by. I carefully dipped down and collected my first piece when a man I’d noticed before was suddenly next to me lifting my second piece.

March 11, 2013

Jalan


Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah berlari sekencang mungkin, tak tau arah dan tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku melangkah, hingga akhirnya aku menemukan cahaya itu--cahaya yang menuntunku ke ujung jalan terang dan aku mulai mengenal suasana di sekelilingku.
Aku mendengar suara burung-burung kecil yang biasa menyapaku setiap pagi, hatiku terasa tenang sesaat. Di ujung jalan juga ada kursi kayu tua dan sebuah biola berwarna hitam. Biola itu hadiah dari ayah di hari ulang tahun Adikku Mely yang ke tujuh, ayah tahu betul bakatnya dalam bermain musik. Setiap sore Mely selalu memainkannya untukku, dia selalu berusaha membuatku tersenyum dengan senar merdunya.

Tombol Merah


            Di perempatan jalan aku terdiam, menunggu datangnya perintah sang ilahi—paling tidak itulah kata komandanku. Aku gemetar sekali, aku bahkan tak sanggup untuk berjalan lagi. Kuputuskan untuk berhenti di belakang sebuah kios kecil penjual minuman bersoda.
            “Minum, mas?” tanya seorang pria muda―mungkin seumuran denganku, sepertinya dia kasihan melihatku bersimbah keringat.
            Cukup lama dia menunggu responku, aku menggeleng pelan. Entah kenapa aku ragu untuk mengeluarkan suara. Rasanya satu saja suara keluar dari mulutku, semua orang akan langsung tahu siapa aku. mungkin memang aku terlalu gelisah. Ya, mungkin saja.

July 10, 2012

Pacar atau Teman?

"Many people walk in and out of your life,
but only true friends that leave footprints in your heart"

Teman, atau bisa disebut sahabat, adalah orang-orang yang selalu berada di sekitar kita. Bukan hanya secara fisik, tapi lebih ke arah kedekatan emosional. Mereka itu seperti malaikat tanpa sayap yang diutus oleh Tuhan dalam wujud manusia untuk menemani setiap langkah dalam hidup kita. Sahabat bagai saudara tanpa ikatan darah, laksana guru tanpa petuah-petuah sendu. 


Sebuah Perbedaan Sejuta Keindahan


Tibalah aku di sebuah bangsa
Entahlah,
Katanya sih, namanya Indonesia
Aku berhenti sejenak terpukau membahana
Terbentang alam begitu indah nan mempesona
Sekumpulan manusia beribadah di sebuah pura
Aku putuskan untuk pergi saja

Aku berlari
Aku tak terlalu nyaman dengan perbedaan agama
Setelah beberapa langkah
Aku kembali tertegun lama
Ada dua orang bertetangga
Satu berdialek lembut dan halus berirama
Satu lagi keras dan tinggi bergema
Hey, negara macam apa ini?
Bagaimana bisa perbedaan begitu terlihat rupa

Aku berlari
Berlari tanpa henti
Menerobos arak-arakan manusia
Berbusana bermacam-macam daerah
Mereka saling memeluk dan tertawa
Ada apa ini?
Mengapa mereka begitu mengenal satu sama lain?
Bukankah itu terlihat mengerikan?
Huhh!

Aku berlari lagi
Kali ini aku tak akan berhenti
Tapi toh aku lelah juga
Sebentar saja
Hanya sekedar melepas lelah
Hingga ada sebuah tangan meraih pundakku
Kuat, tapi tetap terasa bersahabat
Aku ingin pergi dari sana
Tapi,
Tapi dia tersenyum padaku
Menjabat tanganku
Bertanya aku darimana hendak kemana
Jadi aku jawab saja sekenanya
Dia menarik tanganku
Mengajakku ikut berbaur dalam keramaian aneh itu
Aku ingin menolak
Mencoba berlari sejauh yang aku bisa
Terlambat!
Mereka saling menyapa seakan satu saudara

I Wayan bicara Bali
Aku tak mengerti
Subrata bicara Jawa
Kami terkesima
Poltak bicara Medan
Mereka heran
Matulessi bicara Madura
Semua tertawa

Tertawa!

Sejenak aku berpikir
Ternyata perbedaan indah adanya
Jadi kenapa berlari menghindarinya?
Tidak akan lagi!
Aku berjanji pada diriku sendiri

September 22, 2010

Pretty Little Girl

“Mom, can ask you something?” the little girl walks closer to her mom.
“Yeah, pumpkin, what do you want me to answer?” the mother rubs her daughter’s hair softly.
“Am I ugly?” the little girl asks while starring at her mom, waiting an answer.
“No, you are not.” The mother shocks, then pulls her daughter to sit on her lap. She kisses her daughter both cheeks, then asks in soft voice, “why did you even ask that?”
“So, this morning my friend said that I wasn't pretty and I didn't fit to be Cinderella for next week show,” told the little girl.
“You are the most beautiful girl in the world, darling. Mom loves you. Do not let anyone else make you think otherwise. Okay?”
“Okay, mom,” the little girl smiles brightly.
"You are one little pretty girl." Once again the mother kisses her daughter’s left cheek. “I love you,” she continues, then kisses the right cheek which is fully covered with birthmark.

September 21, 2010

i want to be somewhere else

i want to be somewhere else

thought everybody was against me

all those judging eyes

and sadness turn into melancholy


i never gave an honest answer

i did make a lot of stupid mistake

are we done now?

tired of people being fake


all this bitterness is starting to grow cold

embedded into empty feeling

hanging onto complications

sometimes quick sand has a massive appeal, at least to me


i really want to be somewhere else

winter night

making love in a winter night almost like an invitation to a far away dreamland looking at a pair of moonlight eyes swelling heart i feel